LIKE FACEBOOK

Sabtu, 12 Januari 2013

FILM CINTA TAPI BEDA DIMINTA BERHENTI DIPUTAR

Hanung Bramantyo Melecehkan Suku Minangkabau Oleh: Mustafa Kamal | 06 January 2013 | 08:17 WIB
Saya dan orang orang bersuku minang sangat tersinggung atas pemutaran film “Cinta Tapi Beda” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Film yang mengangkat tema percintaan antara dua orang beragama berbeda ini tidak jelas tujuannya, apakah untuk mengajari muda-mudi kita untuk perpaham liberal, atau ingin memprovokasi antara dua umat beragama agar saling membenci karena melarang pernikahan dua insan berbeda agama? saya sangat tidak paham.

Kemudian yang saya tidak paham lagi saat mendapat pemberitahuan dari adik-adik di Jakarta yang sudah menonton film ini, apa pula alasan Hanung mengambil setting dan tokoh anak Minang yang murtad menjadi kristen sebagai Diana dalam film ini? Minangkabau adalah suku yang penganutnya 100% islam. Barangsiapa orang Minangkabau keluar dari Islam maka ia otomatis keluar dari kesukuan Minangnya dan tidak diakui lagi oleh keluarganya serta tidak boleh lagi hidup di Ranah Minang.

Film ini juga menampilkan Saluang sebagai identitas Minangkabau, Rumah Gadang sebagai rumah adat Minang, Mesjid dan perkampungan Minang, padahal yang menjadi orang yang berasal dari Minang (Padang) dalam hal ini bukan lagi gadis Minang (Padang). Jika Hanung memprotes bahwa Diana yang dimaksud adalah keturunan China yang beragama Khatolik dan tinggal di Kawasan Pondok Padang, lalu kenapa harus membawa budaya -budaya Minang? Padahal jelas Chines Bukan Suku Minang

Harusnya Hanung bijak, jika ingin mengambil tokoh khatolik jangan mengambil setting daerah yang sejatinya 100% Muslim, seperti Aceh, Padang (Ranah Minang), KalSel, dan membawa-bawa budaya Kesukuan yang tidak ada sangkut pautnya ke dalam film tapi ambillah daerah yang dominan Kristennya seperti Papua Misalnya.

Jika Hanung protes bukankah Film ini tidak diputar di Padang? Ini jelas ptotes yang lucu, Hanung harus tahu orang Minang tersebar dimana-mana, kami ada di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Dan ketika menonton film ini rasa kesukuan kami seperti dilecehkan. Dan saya mendukung protes yang diajukan oleh Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia (IPPMI) atas film garapan Hanung ini.

Sudah seringkali Hanung ini membuat film kontrovesial seperti film tentang dua santri yang homoseksual berjudul Cinta terlarang batman dan robin, dan sebagainya. sudahlah hanung, jangan bikin kisruh lagi!
                                         
TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG